Selamat Datang

Ini merupakan Blog Mahasiswa Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Universitas Andalas
Padang
Sumatera Barat

Universitas Andalas

Universitas Andalas

Sabtu, 30 Januari 2010


AGRIBISNIS ROSELLA

(Saprina Lubis 07115035)

PENDAHULUAN

Pengenalan Rosella

Nama latin rosella adalah Hibiscus sabdariffa L. Hibiscus termasuk tanaman tropis yang tumbuh tahunan. Berbagai jenis varietas dari hibiscus tersebar di seluruh dunia termasuk India, Afrika, Sudan, Jamaika, Cina, Filifina, dan Amerika.

Nama hibiscus berbeda disetiap negara. Di Australia tanaman ini dikenal sebagai rosella atau buah rosel. Di India, rosela dikenal dengan nama meshta atau chin baung. Di indonesia dikenal sebagai rosela, asam paya, asam susur, dan frambozen.

Terdapat berbagai pendapat mengenai daerah asal rosella. Ada yang berpendapat bahawa rosella merupakan tanman asli India yang dibawa ke Malaysia, kemudian dibudidayakan di seluruh negara tropis. Ada juga yang menyatakan ini sudah lama dibudidayakan di Afrika.ahmad dan Van der Vossen mengemukakan kemungkinan rosella berasal dari Afrika tropik, kemungkinan masuk ke Amerika dan Asia pada abad ke – 17.

Di Indonesia, nama rosella sudah dikenal sejak tahun 1922. tanaman ini tumbuh subur di sepanjang lintasan rel kereta api Indramayu, Jawa Barat. Terutama pada musim hujan terlihat hamparan kelopak bunga rosela. Bunga rosella yang bermekaran dipakai sebagai tanaman hias di taman luar ruangan, tanaman pagar, dan tanman hias didalam ruangan berupa bunga rangkai.

Budidaya Rosella

Pada prinsipnya tanaman Rosella dapat hidup di kondisi lahan, cuaca, serta suhu apapun, akan tetapi di setiap daerah yang berbeda akan menghasilkan warna yang berbeda pula. Rosella merupakan tanaman semusim, hanya mengalami satu kali masa produktif. Batang Rosella akan tumbuh dari satu titik tumbuh. Batangnya tumbuh relatif tinggi yaitu 1-3 meter dan lebar bisa mencapai 2 meter.

1. Syarat Tumbuh

a. Suhu

Rosella dapat hidup di ketinggian 0-900 m di atas permukaan laut. Rosella tumbuh baik di dataran rendah dengan ketinggian 0-500 m dpl. Pertumbuhan Rosella dapat optimal di kisaran 20-34 derajat celcius.

b. Air

Curah hujan rata – rata yang dibutuhkan rosela 140 – 270 mm per tahun dengan kelembapan udara di atas 70 %. Periode kering dibutuhkan untuk pembungaan dan produksi biji. Hujan atau kelembapan yang tinggi selama masa panen dan pengeringan dapat menurunkan kualitas kelopak bunga dan menurunkan produksi.

c. Cahaya, Panjang Hari, dan Waktu Tanam

Rosela termasuk tanamna berhari pendek ( untuk induksi pembungaan, memerlukan panjang hari kurang dari 12 jam). Pada umur 4 -5 bulan pertama pertumbuhannya, rosela membutuhkan panjang hari sekitar 13 jam.

Rosela toleran terhadap sedikit naungan dan dapat tumbuh di green hous, tetapi pertumbuhan terbaiknya ditunjukkan pada tanaman yang di tanam dilapangan pada kondisi cahaya penuh. Waktu tanam mempengaruhi kandungan kimiawi kelopak bunga rosela.

d. Tanah

Berbagai jenis tanah ditanami rosela, terutama struktur yang dalam, bertekstur ringan dan berdrainase baik. Rosela toleran terhadap tanah masam dan agak alkalin, tetapi tidak cocok ditanam di tanah salin atau berkadar garam tinggi. Kemasaman tanah (pH) 5.5 – 7, dan masih dapat toleran pada pH 4,5 – 8,5. Selain itu, rosela tidak terhadap genangan air.

2. Teknik Budidaya Rosella Merah

Perbanyakan tanaman rosella merah biasanya dilakukan secara generatif dengan biji. Tanaman ini berumur kurang dari 1 tahun dengan ketinggian tanaman berkisar 3 m-4 m. Teknik budidaya tanaman rosella merah meliputi kegiatan pokok sebagai berikut:
a. Persemaian

Sebelum disemaikan, biji direndam selama satu hari satu malam lalu dipilih yang tenggelam dengan bentuk butiran – butiran yang baik. Biji dapat langsung disemaikan pada lahan persemaian yang sudah diolah dan diairi. Setelah tumbuh maka bisa langsung dipindah ke ke polybag ataupun menunggu cukup besar untuk langsung dipindah ke lahan produksi.

b. Persiapan Lahan

Persiapan lahan dilakukan dengan pembajakan tanah secara membujur dan melintang. Tanah dicampur pupuk dasar berupa pupuk kandang, lahan dilarik dengan jarak antar larik 1,5 m.

c. Penanaman

Untuk lahan yang langsung dari biji makan penanaman dilakukan dengan ditugal tiap lubang tanam diisi 2-3 biji. Sedangkan untuk penanaman bibit yang telah disemaikan di polybag maka setiap lubang yang akan ditanami diisi dengan 1-2 bibit.
d. Pemupukan

Pemupukan pada lahan sebelum tanam dengan pupuk kandang, sedangkan pada umur 3 dan 7-8 minggu setelah tanam dipupuk Urea sebanyak 30-40 gram tiap tanaman.
e. Hama dan Penyakit

Hama dan penyakit yang paling banyak menyerang rosella adalah hama kutu daun dan penyakit Phytopthora. Penanganannya adalah dengan penyemprotan obat anti kutu ataupun berbagai jenis pestisida yang dijual bebas di toko-toko pertanian.
f. Pemeliharaan

Selama pertumbuhan tanaman perlu diwaspadai keberadaan gulma yang akan berdampak negatif, oleh karena itu dilakukan penyiangan dengan frekuensi sesuai kondisi lahan.

g. Pemangkasan

Untuk meningkatkan produksi kelopak, pemangkasan dapat dilakukan pada umur dua bulan setelah tanam dengan memotong cabangg utama sepanjang 10 – 30 cm dari pucuk tanaman.

h. Pengendalian Gulma

Penyiangan dan penjarangan tanaman umumnya dilakukan secara bersamaan. Penyiangan pertama dilakukan pada umur tiga minggu setelah tanam, penyiangan kedua pada lima minggu setelah tanam.

3. Sistem Tanam

Rosela dapat ditanam, baik secara monokultur atau tumpang sari pada lahan yang diusahakan.rosela lebih cocok ditumpang sari dengan kacang – kacangan karena tanaman legum dapat menyumbang nitrogen terfiksasi melalui simbiosinya dengan bakterin Rhizobium sp.

4. Pengendalian Hama dan penyakit

a. Busuk akar

penyakit utama yang menyerang rosela adalah busuk akar yang disebabkan oleh cendawan Phytophtera parasitica. Penyalit ini biasanya terjadi karena adanya genangan air dilahan atau musim hujan yang terlalu lama.cara pengendalian yang aman adalah dengan melakukan rotasi tanaman (pergiliran tanaman).

b. Belalang

Hama yang umum menyerang tanaman rosela di Indonesia. Belalang memakan daun rosela dan menyebabkan pertumbuhan vegetatif rosela terganggu. Pengendaliannya degan tidak dianjurkan dengan pestisida karena rosela termasuk jenis tanaman obat yang tidak boleh tercemar oleh pestisida.

c. Nematoda

Hama yang penting yang menyerang rosela antara lain nematoda akar, Heterodera rudicicola, kumbang, dan lagris cyanea.

d. Kutu daun

Kutu ini berwarna putih, menyerang titik tumbuh dan kelopak bunga mengakibatkan tanaman menjadi kerdil, daun mengering, tampak berwarna putih yang menunjukkan berkurannyakandungan antosianin.

5. Panen dan Pasca Panen

a. Panen

  • Ciri dan Umur Panen

Waktu panen dipengaruhi oleh panjang hari dan kesubura tanah. Di tanah yang kurang subur dengan kandungan hara rendah terutama nitrogen, rosela akan lebih cepat berbunga dibandingkan dengan yang ditanam di tanah yang kandungan nitrogennya tinggi.

Kelopak bunga di panen seteah berkembang penuh atau telah mencapi ukurn optimal.lama panen dipenagruhi oleh teknik buidaya, terutama pemangkasan dan pemupukan.

  • Waktu dan Cara Panen

Pemetikan rosela lebih baik dilakukan pada pagi hari, karena kadar air masih tinggi.buah biasanya dipotong dengan menggunakan gunting atau pisau yang tajam untuk menghindari kerusakan.

  • Hasil Panen

Hasil panen dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antarnya faktor genetik, lingkungan, dan teknik budidaya.kultivar yang memiliki potensi produksi tinggi, jika ditanam pada kondisi yang baik akan menghasilkan produksi maksimal.

b. Pasca Panan

1. Sortasi

Kelopak bunga yang telah dipanen di pisahkan berdasarkan tingkat serangan hama dan penyakit, tingkat kematangan, dan ukuran.

2. Pengeringan

Agar dapat di simpan lebih lama, sebaiknya rosela dikeringan dengan kadar air maksimum 12 %.prose pengeringan bisa dilakukan dengan cara buatan atua dengan buatan, di jemur atau dengan pengopenan.

3. penyimpanan

Kelopak rosela harus disimpan di tempat gelap pada suhu rendah. Kelembapan relatif rendah 60 % serta berventilisasi yang baik.

4. Pengemasan

Untuk di ekspor ke luar negri, kelopak kering dapat di kemas dengan kemasan pedagangdalam kantong yang dapat direkat.

PRODUK OLAHAN ROSELA

Bagian tanaman rosela yang paling banyak dimanfaatkan untuk produk pangan maupun nonpangan adalah kelopak bunga rosela. Beberapa produk olahan dari rosela, antara lain:

a. Teh rosela

Teh rosela merupakan salah satu jenis teh merah yang pailng populer dan disukai konsuen. Teh rosela dikenal dengan nama beragam, seperti hibiscus tea, teh mekkah, teh yaman, karkade (Arab), kezeru (jepang). Teh rosela dapat dibuat dari kelopak dan daunnya, tetapi pada umumnya dibuat dari kelopaknya.

b. Jus Rosela

Jus rosela merupakan miniman kesehatan yang terbuat dari sari kelopak rosela. Jus ini sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Jus dibut dengan cara merebus kelopak bunga segar bersama air dengan perbandingan 1 : 4. Setelah itu, jus dimasukkan ke dalam wadah kaca yang telah disterilisasi terlebih dahulu.

c. Sirup rosela.

Pembuatan sirup rosela pada prinsipnya sama dengan pembuatan jus rosela, akan tetapi pembuatan sirup konsentrasi bunga rosela yang digunakan lebih tinggi, begitu juga dengan konsentrasi gula lebih tinggi.

d.Permen Jeli Rosela

rosela dapat dijadikan permen jeli.prinsip pembuatan permen jeli adalah menggantikan iar yang berisi ekstrak sari buah dengan ekstrak sari buah dengan ekstrak bunga rosela.

e. Selai rosela

pengolahan kelopak bunga telah dihaluskan, kemudian disaring dan amapsnya direbus bersama gula hingga mengental.


PROSPEK PASAR

Prospek pemasaran produk olahan berbahan baku dan daun rosella cukup prespektif, terutama untuk pasar luar negeri. Negara pengekspor utama tanaman rosella adalah: Cina, Meksiko, Cile, India, Thailand dan Peru.



Gbr. Perkembangan volume impor rosella oleh negara importir terbesar tahun 1994-1998 (Diolah dari Market Survey: Hibiscus sabdariffa L. tahun 1998).

Prospek bisnis rosela cukup menjanjikan, kata Bambang. Itu terlihat dari permintaan yang terus melonjak. Bahkan ia terpaksa menepis permintaan seorang pengusaha asal Jakarta yang meminta pasokan 15 ton rosela kering per tahun. Permintaan itu membuat Bambang kewalahan. Kapasitas produksi saya baru 5 ton rosela kering per tahun, katanya. Pada 2007, Bambang berencana menambah kapasitas produksi hingga 15 ton/tahun (Trubus, Kamis, Februari 01, 2007).

Dari sehektar lahan, pekebun memanen 2-2,5 ton segar. Setelah dikeringkan, diperoleh 200-250 kg. Dengan harga beli di tingkat pekebun Rp175.000- Rp200.000 per kg, pekebun meraup omzet Rp35-juta-Rp50-juta per 6 bulan atau Rp5,8-juta-Rp8,3-juta per bulan. Sedangkan biaya penanaman hanya Rp5-juta/ha/musim tanam atau Rp833.000 per bulan. Artinya, pekebun bisa meraup laba bersih Rp5-juta-Rp7,5-juta per bulan. Keuntungan setinggi itu tentu saja menggiurkan. Akhirnya, hingga 2006, 50 orang pekebun bergabung menjadi plasma dengan areal tanam 100 ha (Trubus, Kamis, Februari 01, 2007).

l Kualitas warna dan rasa dari bunga rosella berbeda – beda antar negar. Harga rosella kering dapat bervariasi dari $600-$1.700 per ton.

l Kualitas rosella kering ditentukan oleh warna dan rasa seduhan.

l Untuk ekspor, petani harus mengikuti persyaratan yang diminta oleh importir.

Perkembangan Industri Rosella

l Tahun 1892, di Queensland Australia terdapat dua pabrik yang memproduksi selai rosella yg diekspor ke Eropa, walaupun umurnya tidak panjang

l P.J Waster àrosella dibawa ke Florida dari Jamaika tahun 1887.

l 1905, W.A Hobbs mencoba menanam rosella di Filifina dan hasilnya memuaskan.

l Di Amerika dan Eropa, rosella digunakam sbgai pewarna makanan.

l Saat in Rosella dimanfaatkan sebagai produk makanan alami dan pengganti bahan pewarna sintetik.

Khasiat utama Rosella

  • Anti kanker
  • Anti hipertensi
  • Anti diabetes
  • Anti kolesterol
  • Menurunkan bobot badan
  • Terapi gangguan liver dan asam urat
  • Khasiat tambahan dan efek samping

DAFTAR PUSTKA

Ir.Mardiah, M.Si. 2009. Budidaya &Pengolahan Rosela ”Si Merah Segudang Manfaat”. PT MediaAgro Pustaka: Jakarta.

http://www.kulonprogokab.go.id/main.php?what=berita/berita_lengkap&id_berita=260920090804141

http://www.beritacerbon.com/berita/2008-11/pengusaha-teh-rosella-mencari-pasar-baru

Tips Merawat Anggrek Desniken Yunita 07115022

1. Lokasi, suhu dan kelembaban: Anggrek akan tumbuh dengan baik di dataran tinggi (di dataran rendah juga bisa hidup, tetapi harus memenuhi ketentuan yang tepat), suhu berkisar 15 – 35 derajat Celcius (suhu optimum 21 derajat Celcius) dengan sirkulasi udara yang baik. Kelembaban udara berkisar 65 – 70 %.
2. Cahaya matahari: Tanaman anggrek pantang kena sinar matahari langsung, tetapi masih toleran terhadap sinar matahari pagi (antara jam 7 – 9 pagi). Anggrek yang kurang dapat cahaya matahari tumbuh kurus, berdaun sempit dan panjang, sebaliknya jika kelebihan sinar matahari daun akan menguning seperti terbakar. Anggrek akan tumbuh dengan baik jika digantung di bawah kerimbunan pohon.
3. Penyiraman: Tidak ada patokan tepat untuk menyiram anggrek. Cara praktis untuk mengetahui apakah tanaman sudah perlu disiram dengan memantau kondisi media tanamnya. Penyiraman sebaiknya dengan sprayer dan air yang digunakan bebas kaporit dan senyawa kimia lainnya. Anggrek muda lebih membutuhkan banyak air, penyiraman sebaiknya 1 hari 1 kali. Untuk anggrek yang lebih besar, 2 hari sekali cukup memadai. Terlalu banyak air akan membuat anggrek mudah diserang jamur yang menyebabkan daun dan akar membusuk. Bunga anggrek sebaiknya jangan terkena air karena akan cepat rontok.
4. Pemupukan: Anggrek perlu dipupuk untuk membuatnya rajin berbunga. Tips untuk memilih pupuk yang tepat adalah pilih pupuk cair (pupuk daun), unsur makro NPK harus disesuaikan dengan usia tanaman (anggrek muda memerlukan unsur N lebih banyak, sedangkan anggrek siap berbunga memerlukan unsur P lebih banyak). Pemupukan dilakukan seminggu sekali dengan dosis 1/2 sdt untuk 1 liter air. Semprotkan larutan pupuk dengan sprayer pada bagian daun dan akar. Pemupukan bisa dilakukan lebih sering dengan mengurangi dosis.
5. Media tanam: Media tanam yang baik adalah yang tidak cepat lapuk, memudahkan akar menempel, berongga (porous) untuk sirkulasi udara, dapat menyimpan zat hara, serta tidak mudah menjadi sumber penyakit. Macam media adalah pakis, moss, sabut kelapa, arang kayu, pecahan batu bata atau genteng.
6. Pot: Untuk pot bisa dipilih pot tanah atau plastik. Pot tanah bisa menyimpan air, sedangkan pot plastik tidak. Aggrek juga bagus ditanam di blok pakis dan digantung di bawah pohon. Secara berkala sebaiknya dilakukan repotting, misalnya 6 bulan sekali untuk memberi ruang lebih pada akar anggrek.


Budidaya Tanaman Anggrek
ASPEK LINGKUNGAN
Secara alami anggrek (Famili Orchidaceae) hidup epifit pada pohon dan ranting-ranting tanaman lain, namun dalam pertumbuhannya anggrek dapat ditumbuhkan dalam pot yang diisi media tertentu. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman, seperti faktor lingkungan, antara lain sinar matahari, kelembaban dan temperatur serta pemeliharaan seperti : pemupukan, penyiraman serta pengendalian OPT.
Pada umumnya anggrek-anggrek yang dibudidayakan memerlukan temperatur 28 + 2° C dengan temperatur minimum 15° C. Anggrek tanah pada umumnya lebih tahan panas dari pada anggrek pot. Tetapi temperatur yang tinggi dapat menyebabkan dehidrasi yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman.
Kelembaban nisbi (RH) yang diperlukan untuk anggrek berkisar antara 60–85%. Fungsi kelembaban yang tinggi bagi tanaman antara lain untuk menghindari penguapan yang terlalu tinggi. Pada malam hari kelembaban dijaga agar tidak terlalu tinggi, karena dapat mengakibatkan busuk akar pada tunas-tunas muda. Oleh karena itu diusahakan agar media dalam pot jangan terlampau basah. Sedangkan kelembaban yang sangat rendah pada siang hari dapat diatasi dengan cara pemberian semprotan kabut (mist) di sekitar tempat pertanaman dengan bantuan sprayer.
Berdasarakan pola pertumbuhannya, tanaman anggrek dibedakan menjadi dua tipe yaitu, simpodial dan monopodial. Anggrek tipe simpodial adalah anggrek yang tidak memiliki batang utama, bunga ke luar dari ujung batang dan berbunga kembali dari anak tanaman yang tumbuh. Kecuali pada anggrek jenis Dendrobium sp. yang dapat mengeluarkan tangkai bunga baru di sisi-sisi batangnya. Contoh dari anggrek tipe simpodial antara lain : Dendrobium sp., Cattleya sp., Oncidium sp. dan Cymbidium sp. Anggrek tipe simpodial pada umumnya bersifat epifit.
Anggrek tipe monopodial adalah anggrek yang dicirikan oleh titik tumbuh yang terdapat di ujung batang, pertumbuhannnya lurus ke atas pada satu batang. Bunga ke luar dari sisi batang di antara dua ketiak daun. Contoh anggrek tipe monopodial antara lain : Vanda sp., Arachnis sp., Renanthera sp., Phalaenopsis sp., dan Aranthera sp.
Habitat tanaman anggrek dibedakan menjadi 4 kelompok sebagai berikut :
• Anggrek epifit, yaitu anggrek yang tumbuh menumpang pada pohon lain tanpa merugikan tanaman inangnya dan membutuhkan naungan dari cahaya matahari, misalnya Cattleya sp. memerlukan cahaya +40%, Dendrobium sp. 50–60%, Phalaenopsis sp. + 30 %, dan Oncidium sp. 60 – 75 %.
• Anggrek terestrial, yaitu anggrek yang tumbuh di tanah dan membutuhkan cahaya matahari langsung, misalnya Aranthera sp., Renanthera sp., Vanda sp. dan Arachnis sp.
Tanaman anggrek terestrial membutuhkan cahaya matahari 70 – 100 %, dengan suhu siang berkisar antara 19 – 380C, dan malam hari 18–210C. Sedangkan untuk anggrek jenis Vanda sp. yang berdaun lebar memerlukan sedikit naungan.
• Anggrek litofit, yaitu anggrek yang tumbuh pada batu-batuan, dan tahan terhadap cahaya matahari penuh, misalnya Dendrobium phalaenopsis.
• Anggrek saprofit, yaitu anggrek yang tumbuh pada media yang mengandung humus atau daun-daun kering, serta membutuhkan sedikit cahaya matahari, misalnya Goodyera sp.

Pengolahan Biji Coklat Raisa Santiago 07115041

PENDAHULUAN

Kakao (Theobroma cacao L.)merupakan tanaman perkebunan yang dewasa ini mendapat perhatian besar karena termasuk salah satu komoditas penting bagi perekonomian negara serta komoditas yang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani Perkembangan tanaman kakao di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini berlangsung sangat cepat. Pada tahun1986 luas perkebunan di Indonesia berjumlah 98.155 hektar, sedangkan pada tahun 1996 jumlah tersebut meningkat menjadi 610.876 hektar.hal ini karena dilihat dari hasilnya kakao merupakan salah satu komuditas yang menjanjikan dan pengolahannyapun bisa dijadikan beberapa macam.
• Klasifikasi botani tanaman kakao adalah sebagai berikut:
Divisi: Sperrnatophyta
Sub divisi: Angiosperrnae
Kelas: Dicotyledonae
Keluarga: Sterculiaceae
Genus: Theobroma
Spesies: Theobrorna cacao L.
• Jenis kakao yang terbanyak dibudidayakan di Indonesia adalah jenis:
• Criollo (Criollo Amerika Tengah dan Amerika Selatan) yang menghasilkan biji kakao bermutu sangat baik dan dikenal sebagai kakao mulia, fine flavour cocoa, ckoiced cocoa atau edel cocoa.
• Forastero yang menghasilkan biji kakao bermutu sedang dan dikenal sebagai ordinary cocoa atau bulk cocoa.
• Trinitario yang merupakan hibrida alam dari Criollo dan Forastero sehingga menghasilkan biji kakao yang dapat termasuk fine flauour cocoa atau bulk cocoa. Jenis Trinitario yang banyak ditanam di Indonesia adalah hibrida Djati Runggo (DR) dan Uppertimazone Hybrida (Kakao lindak).


• Bagian Tanaman Kakao
Tanaman kakao yang berasal dari biji (generatif) mempunyai akar tunggang yang tumbuh lurus ke bawah dan memiliki beberapa akar sekunder yang menyebar di sekitar pohon. Tanaman yang berasal dari stek tidak mempunyai akar tunggang tetapi mempunyai beberapa akar yang berfungsi seperti akar tunggang.Tanaman kakao mempunyai cabang yang bersifat dimorphous (dua tipe cabang) yaitu cabang yang selalu tumbuh vertikal dan cabang yang selalu tumbuh horizontal. Batang kakao membentuk 3-6 cabang kipas yang bertemu pada satu titik yang disebut jorquette.Daun kakao berwarna hijau tua, berbentuk lonjong, dan kaku. Lebar dan panjang daun kakao tergantung kesuburan tanaman. Pada tanaman yang subur, panjang daun kakao bisa mencapai 30 cm. Daun muda ada yang berwarna hijau muda, hijau kemerahan, atau merah, tergantung jenis kakaonya. Tanaman kakao berbunga sepanjang tahun, tumbuh secara berkelompok pada bantal-bantal bunga yang menempel pada batang, cabang, dan ranting pohon. Setiap bunga mengandung benang sari dan putik yang berarti tanaman ini bersifat hermaprodit.Kulit buah kakao ada yang berwarna hijau atau merah. Kulit yang berwarna hijau muda atau hijau tua akan berubah menjadi kuning pada waktu kakao sudah masak, sedangkan kakao yang berkulit merah pada waktu sudah masak akan berubah menjadi oranye. Buah kakao menjadi masak setelah 5-6 bulan dari proses penyerbukan. Setiap tongkol kakao forastero berisi 30-50 biji dengan berat 0,8 sampai 1,3 gram per biji.
• Pengolahan Biji Coklat
Hasil utama dari pengolahan buah coklat adalah biji coklat yang siap untuk disimpan dengan kadar air yang ideal sebesar 6%.
• Biji kakao terdiri dari dua bagian utama yaitu kulit biji dan keping biji.
• Kulit biji kakao dibersihkan sehingga diperoleh keping biji yang kemudian diolah menjadi berbagai produk coklat.
• Tahap-tahap proses pengolahan biji coklat
1. Pemecahan buah dengan menggunakan pemukul kayu lalu biji-biji dikeluarkan dengan tangan dan dimasukkan ke dalam peti fermentasi.
2. Proses Fermentasi


Tujuan :
– Eksternal : fermentasi bertujuan untuk menghancurkan pulp yang membungkus biji coklat dengan bantuan mikroorganisme yang diperoleh dari udara terbuka.
– Internal : fermentasi bertujuan untuk mengadakan perubahan struktur / komponen kimia dari keping biji diubah oleh proses ini.
3. Perendaman dan Pencucian
Setelah proses fermentasi selesai ± 62 jam, kemudian dilakukan proses perendaman selama ± 2 jam yang bertujuan untuk menghentikan proses fermentasi kemudian dicuci dan langsung dikeringkan.
4. Pengeringan coklat
Biji dikeringkan di bawah sinar matahari (sun drying) sehingga warna lebih menarik, yaitu merah coklat dan mengkilat. Penjemuran dilakukan ± 2 hari dan sambil dibolak-balik. setelah dijemur kemudian dikeringkan dengan pengeringan buatan (vis dryer), suhu dijaga ± 50°c. Kadar air turun ± 5-6 % lamanya 48-60 jam.
5. Penguletan (Tempering)
• Biji coklat kering yang kadar airnya 5-6 % dimasukkan dalam karung lalu mengalami tempering pada ruang khusus dan pada lapisan karung yang terbawah diberi alas kayu/papan.
• Hal ini agar biji coklat menjadi ulet sehingga prosentasi biji yang pecah dapat diperkecil.
6. Sortasi Kering
Dilakukan oleh tangan manusia secara visual
7. Pengepakan dan penyimpanan
Salah satu contoh dari pengolahan kakao menjadi coklat yaitu pembuatan coklat pasta dengan menambahkan minyak coklat.Bahan penambah lain juga ditambahkan seperti gula, susu, atau krem, emulsi, aroma, termasuk juga minyak coklat kemudian di campur dengan menggunakan mixer. Komposisi atau kadar dari bahan-bahan penambah ini sangat tergantung dari jenis atau tipe coklat yang akan dihasilkan.Hasil dari proses mixer tersebut kemudian dihaluskan dengan menggunakan refiner yang terdiri dari beberapa roll besi yang berputar dan hasil mixer dilewatkan pada roll tersebut sehingga diperolah adonan yang sangat halus.Proses "Refining" ini meningkatkan tekstur dari coklat itu sendiriProses selanjutnya adalah "conching", proses lanjutan untuk memperoleh tekstur dan aroma coklat. "Conching" sendiri adalah alat yang dinamakan kneading atau proses penghalusan coklat. Kecepatan, lamanya waktu dan suhu dari proses "kneading" tersebut sangat berpengaruh pada tekstur dan aroma coklat yang akan dihasilkan. Alternatif lain dari proses conching adalah proses pembuatan emulsi dengan menggunakan mesin yang bekerja seperti pemecah telur.Hasil dari proses conching kemudian di tempering, dengan melewatkan adonan pada proses pendinginan dan pemanasan kembali. Proses ini bertujuan untuk mencegah terjadinya perubahan warna dan timbulnya semacam jamur atau "fat bloom" pada coklat yang dihasilkan dengan mencegah terbentuknya kristal tertentu pada minyak coklat yang terkandung pada coklat itu sendiri.Adonan tersebut kemudian dituangkan kedalam cetakan atau dicurahkan menggunakan proses "enrobing" yang kemudian didinginkan atau dibekukan dalam sebuah pendingin atau "cooling chamber”.Coklat yang dihasilkan kemudian dikemas untuk kemudian didistribusikan ke penjual atau toko

Jumat, 29 Januari 2010

Budidaya Kentang ( Solanun tuberosum L. ) Oleh : SINTA RIA KONTESA (O7115002)

UMUM
1.1. Sejarah Singkat
Tanaman ini berasal dari daerah subtropis di Eropa yang masuk ke Indonesia pada saat bangsa Eropa memasuki Indonesia di sekitar abad ke 17 atau 18.

1.2. Sentra Penanaman
Sentra tanaman yang utama adalah Lembang dan Pangalengan (Jawa Barat), Magelang (Jawa Timur), Bali. Produksi kentang pada tahun 1998 mencapai 1.011.316 ton.

1.3. Jenis Tanaman
Kentang (Solanum tuberosum L) termasuk jenis tanaman sayuran semusim, berumur pendek dan berbentuk perdu/semak. Kentang termasuk tanaman semusim karena hanya satu kali berproduksi, setelah itu mati. Umur tanaman kentang antara 90-180 hari.

Dalam dunia tumbuhan, kentang diklasifikasikan sebagai berikut:
• Divisi : Spermatophyta
• Subdivisi : Angiosperma
• Kelas : Dicotyledona
• Famili : Solanaceae
• Genus : Solanum
• Species : Solanun tuberosum L.

Dari tanaman ini dikenal pula spesies-spesies lain yang merupakan spesies liar, di antaranya Solanum andigenum L, Solanum anglgenum L, Solanum demissum L dan lain-lain. Varitas kentang yang banyak ditanam di Indonesia adalah kentang kuning varitas Granola, Atlantis, Cipanas dan Segunung.

1.4. Manfaat Tanaman
Melihat kandungan gizinya, kentang merupakan sumber utama karbohidrat. Kentang menjadi makanan pokok di banyak negara barat. Zat-zat gizi yang terkandung dalam 100 gram bahan adalah kalori 347 kal, protein 0,3 gram, lemak 0,1 gram, karbohidrat 85,6 gram, kalsium (Ca) 20 gram, fosfor (P) 30 mg, besi (Fe) 0,5 mg dan vitamin B 0,04 mg.

II. SYARAT PERTUMBUHAN

2.1. Iklim
Daerah dengan curah hujan rata-rata 1500 mm/tahun sangat sesuai untuk membudidayakan kentang. Daerah yang sering mengalami angin kencang tidak cocok untuk budidaya kentang.
Lama penyinaran yang diperlukan tanaman kentang untuk kegiatan fotosintesis adalah 9-10 jam/hari. Lama penyinaran juga berpengaruh terhadap waktu dan masa perkembangan umbi. Suhu optimal untuk pertumbuhan adalah 18-21 derajat C. Pertumbuhan umbi akan terhambat apabila suhu tanah kurang dari 10 derajat C dan lebih dari 30 derajat C. Kelembaban yang sesuai untuk tanaman kentang adalah 80-90%. Kelembaban yang terlalu tinggi akan menyebabkan tanaman mudah terserang hama dan penyakit, terutama yang disebabkan oleh cendawan.

2.2. Media Tanam
Secara fisik, tanah yang baik untuk bercocok tanaman kentang adalah yang berstruktur remah, gembur, banyak mengandung bahan organik, berdrainase baik dan memiliki lapisan olah yang dalam. Sifat fisik tanah yang baik akan menjamin ketersediaan oksigen di dalam tanah. Tanah yang memiliki sifat ini adalah tanah Andosol yang terbentuk di pegunungan-pegunungan. Keadaan pH tanah yang sesuai untuk tanaman kentang bervariasi antara 5,0-7,0, tergantung varietasnya. Untuk produksi yang baik pH yang rendah tidak cocok ditanami kentang. Pengapuran mutlak diberikan pada tanah yang memiliki nilai pH sekitar 7.

2.3. Ketinggian Tempat
Daerah yang cocok untuk menanam kentang adalah dataran tinggi/daerah pegunungan, dengan ketinggian antara 1.000-3.000 m dpl. Ketinggian idealnya berkisar antara 1000-1300 m dpl. Beberapa varitas kentang dapat ditanam di dataran menengah (300-700 m dpl).

III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

3.1. Pembibitan
Bibit Tanaman kentang dapat berasal dari umbi, perbanyakan melalui stek batang dan stek tunas daun.
Umbi
Umbi bibit berasal dari umbi produksi berbobot 30-50 gram. Pilih umbi yang cukup tua antara 150-180 hari, umur tergantung varietas, tidak cacat, umbi baik, varitas unggul. Umbi disimpan di dalam rak/peti di gudang dengan sirkulasi udara yang baik (kelembaban 80-95%). Lama penyimpanan 6-7 bulan pada suhu rendah dan 5-6 bulan pada suhu 25 derajat C. Pilih umbi dengan ukuran sedang, memiliki 3-5 mata tunas. Gunakan umbi yang akan digunakan sebagai bibit hanya sampai generasi keempat saja. Setelah bertunas sekitar 2 cm, umbi siap ditanam.
Bila bibit diusahakan dengan membeli, (usahakan bibit yang kita beli bersertifikat), berat antara 30-45 gram dengan 3-5 mata tunas. Penanaman dapat dilakukan tanpa dan dengan pembelahan. Pemotongan umbi dilakukan menjadi 2-4 potong menurut mata tunas yang ada. Sebelum tanam umbi yang dibelah harus direndam dulu di dalam larutan Dithane M-45 selama 5-10 menit. Walaupun pembelahan menghemat bibit, tetapi bibit yang dibelah menghasilkan umbi yang lebih sedikit daripada yang tidak dibelah. Hal tersebut harus diperhitungkan secara ekonomis.

Stek Batang dan stek tunas
Cara ini tidak biasa dilakukan karena lebih rumit dan memakan waktu lebih lama. Bahan tanaman yang akan diambil stek batang/tunasnya harus ditanam di dalam pot. Pengambilan stek baru dapat dilakukan jika tanaman telah berumur 1-1,5 bulan dengan tinggi 25-30 cm. Stek disemaikan di persemaian. Apabila bibit menggunakan hasil stek batang atau tunas daun, ambil dari tanaman yang sehat dan baik pertumbuhannya.

3.2. Pengolahan Media Tanam
Lahan dibajak sedalam 30-40 cm sampai gembur benar supaya perkembangan akar dan pembesaran umbi berlangsung optimal. Kemudian tanah dibiarkan selama 2 minggu sebelum dibuat bedengan.
Pada lahan datar, sebaiknya dibuat bedengan memanjang ke arah Barat-Timur agar memperoleh sinar matahari secara optimal, sedang pada lahan berbukit arah bedengan dibuat tegak lurus kimiringan tanah untuk mencegah erosi. Lebar bedengan 70 cm (1 jalur tanaman)/140 cm (2 jalur tanaman), tinggi 30 cm dan jarak antar bedengan 30 cm. Lebar dan jarak antar bedengan dapat diubah sesuai dengan varietas kentang yang ditanam. Di sekeliling petak bedengan dibuat saluran pembuangan air sedalam 50 cm dan lebar 50 cm.

3.3. Teknik Penanaman
3.3.1. Pemupukan Dasar
• Pupuk dasar organik berupa kotoran ayam 10 ton/ha, kotoran kambing sebanyak 15 ton/ha atau kotoran sapi 20 ton/ha diberikan pada permukaan bedengan kurang lebih seminggu sebelum tanam, dicampur pada tanah bedengan atau diberikan pada lubang tanam.
• Pupuk anorganik berupa SP-36=400kg/ha

3.3.2. Cara Penanaman
Bibit yang diperlukan jika memakai jarak tanam 70 x 30 cm adalah 1.300-1.700 kg/ha dengan anggapan umbi bibit berbobot sekitar 30-45 gram. Jarak tanaman tergantung varietas. Dimanat dan LCB 80 x 40 sedangkan varietas lain 70 x 30 cm. Waktu tanam yang tepat adalah diakhir musim hujan pada bulan April-Juni, jika lahan memiliki irigasi yang baik/sumber air kentang dapat ditanam dimusim kemarau. Jangan menanam dimusim hujan. Penanaman dilakukan dipagi/sore hari. Lubang tanam dibuat dengan kedalaman 8-10 cm. Bibit dimasukkan ke lubang tanam, ditimbun dengan tanah dan tekan tanah di sekitar umbi. Bibit akan tumbuh sekitar 10-14 hst. Mulsa jerami perlu dihamparkan di bedengan jika kentang ditanam di dataran medium.

3.4. Pemeliharaan Tanaman
3.4.1. Penyulaman
Untuk mengganti tanaman yang kurang baik, maka dilakukan penyulaman. Penyulaman dapat dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari. Bibit sulaman merupakan bibit cadangan yang telah disiapkan bersamaan dengan bibit produksi. Penyulaman dilakukan dengan cara mencabut tanaman yang mati/kurang baik tumbuhnya dan ganti dengan tanaman baru pada lubang yang sama.

3.4.2. Penyiangan
Lakukan penyiangan secara kontinyu dan sebaiknya dilakukan 2-3 hari sebelum/bersamaan dengan pemupukan susulan dan penggemburan. Jadi penyiangan dilakukan minimal dua kali selama masa penanaman. Penyiangan harus dilakukan pada fase kritis yaitu vegetatif awal dan pembentukan umbi.

3.4.3. Pemangkasan Bunga
Pada varietas kentang yang berbunga sebaiknya dipangkas untuk mencegah terganggunya proses pembentukan umbi, karena terjadi perebutan unsur hara untuk pembentukan umbi dan pembungaan.

3.4.4. Pemupukan
Selain pupuk organik, maka pemberian pupuk anorganik juga sangat penting untuk pertumbuhan tanaman. Pupuk yang biasa diberikan Urea dengan dosis 330 kg/ha, TSP dengan dosis 400 kg/ha sedangkan KCl 200 kg/ha. Secara keseluruhan pemberian pupuk organik dan anorganik adalah sebagai berikut:
• Pupuk kandang: saat tanam 15.000-20.000 kg.
• Pupuk anorganik
• Urea/ZA: 21 hari setelah tanam 165/350 kg dan 45 hari setelah tanam 165/365 kg.

SP-36: saat tanam 400 kg
• KCl: 21 hari setelah tanam 100 kg dan 45 hari setelah tanam 100 kg.
• Pupuk cair: 7-10 hari sekali dengan dosis sesuai anjuran
• Pupuk anorganik diberikan ke dalam lubang pada jarak 10 cm dari batang tanaman kentang.

3.4.5. Pengairan
Tanaman kentang sangat peka terhadap kekurangan air. Pengairan harus dilakukan secara rutin tetapi tidak berlebihan. Pemberian air yang cukup membantu menstabilkan kelembaban tanah sebagai pelarut pupuk. Selang waktu 7 hari sekali secara rutin sudah cukup untuk tanaman kentang. Pengairan dilakukan dengan cara disiram dengan gembor/embrat/dengan mengairi selokan sampai areal lembab (sekitar 15-20 menit).

3.5. Hama dan Penyakit
3.5.1. Hama
Ulat grayak (Spodoptera litura)
Gejala: ulat menyerang daun dengan memakan bagian epidermis dan jaringan hingga habis daunnya. Pengendalian: (1) mekanis dengan memangkas daun yang telah ditempeli telur; (2) kimia dengan Azordin, Diazinon 60 EC, Sumithion 50 EC.
Kutu daun (Aphis Sp)
Gejala: kutu daun menghisap cairan dan menginfeksi tanaman, juga dapat menularkan virus bagi tanaman kedelai. Pengendalian: dengan cara memotong dan membakar daun yang terinfeksi, menyemprotkan Roxion 40 EC, Dicarzol 25 SP.
Orong-orong (Gryllotalpa Sp)
Gejala: menyerang umbi di kebun, akar, tunas muda dan tanaman muda. Akibatnya tanaman menjadi peka terhadap infeksi bakteri. Pengendalian: menggunakan tepung Sevin 85 S yang dicampur dengan pupuk kandang.
Hama penggerek umbi (Phtorimae poerculella Zael)
Gejala: pada daun yang berwarna merah tua dan terlihat adanya jalinan seperti benang yang berwarna kelabu yang merupakan materi pembungkus ulat. Umbi yang terserang bila dibelah, akan terlihat adanya lubang-lubang karena sebagian umbi telah dimakan. Pengendalian: secara kimia menggunakan Selecron 500 EC, Ekalux 25 EC, Orthene &5 SP, Lammnate L.
Hama trip ( Thrips tabaci )
Gejala: pada daun terdapat bercak-bercak berwarna putih, selanjutnya berubah menjadi abu-abu perak dan kemudian mengering. Serangan dimulai dari ujung-ujung daun yang masih muda. Pengendalian: (1) secara mekanis dengan cara memangkas bagian daun yang terserang; (2) secara kimia menggunakan Basudin 60 EC, Mitac 200 EC, Diazenon, Bayrusil 25 EC atau Dicarzol 25 SP.

3.5.2. Penyakit
Penyakit busuk daun
Penyebab: jamur Phytopthora infestans. Gejala: timbul bercak-bercak kecil berwarna hijau kelabu dan agak basah, lalu bercak-bercak ini akan berkembang dan warnanya berubah menjadi coklat sampai hitam dengan bagian tepi berwarna putih yang merupakan sporangium. Selanjutnya daun akan membusuk dan mati. Pengendalian: menggunakan Antracol 70 WP, Dithane M-45, Brestan 60, Polyram 80 WP, Velimek 80 WP dan lain-lain.
Penyakit layu bakteri
Penyebab: bakteri Pseudomonas solanacearum. Gejala: beberapa daun muda pada pucuk tanaman layu dan daun tua, daun bagian bawah menguning. Pengendalian: dengan cara menjaga sanitasi kebun, pergiliran tanaman. Pemberantasan secara kimia dapat menggunkan bakterisida, Agrimycin atu Agrept 25 WP.
Penyakit busuk umbi
Penyebab: jamur Colleotrichum coccodes. Gejala: daun menguning dan menggulung, lalu layu dan kering. Pada bagian tanaman yang berada dalam tanah terdapat bercak-bercak berwarna coklat. Infeksi akan menyebabkan akar dan umbi muda busuk. Pengendalian: dengan cara pergiliran tanaman , sanitasi kebun dan penggunaan bibit yang baik.
Penyakit fusarium
Penyebab: jamur Fusarium sp. Gejala: infeksi pada umbi menyebabkan busuk umbi yang menyebabkan tanaman layu. Penyakit ini juga menyerang kentang di gudang penyimpanan. Infeksi masuk melalui luka-luka yang disebabkan nematoda/faktor mekanis. Pengendalian: dengan menghindari terjadinya luka pada saat penyiangan dan pendangiran. Pengendalian kimia dengan Benlate.

Penyakit bercak kering (Early Blight)
Penyebab: jamur Alternaria solani. Jamur hidup disisa tanaman sakit dan berkembang biak di daerah kering. Gejala: daun terinfeksi berbercak kecil yang tersebar tidak teratur, berwarna coklat tua, lalu meluas ke daun muda. Permukaan kulit umbi berbercak gelap tidak beraturan, kering, berkerut dan keras. Pengendalian: dengan pergiliran tanaman.
Penyakit karena virus
Virus yang menyerang adalah: (1) Potato Leaf Roll Virus (PLRV) menyebabkan daun menggulung; (2) Potato Virus X (PVX) menyebabkan mosaik laten pada daun; (3) Potato Virus Y (PVY) menyebabkan mosaik atau nekrosis lokal; (4) Potato Virus A (PVA) menyebabkan mosaik lunak; (5) Potato Virus M (PVM) menyebabkan mosaik menggulung; (6) Potato Virus S (PVS) menyebabkan mosaik lemas. Gejala: akibat serangan, tanaman tumbuh kerdil, lurus dan pucat dengan umbi kecil-kecil/tidak menghasilkan sama sekali; daun menguning dan jaringan mati. Penyebaran virus dilakukan oleh peralatan pertanian, kutu daun Aphis spiraecola, A. gossypii dan Myzus persicae, kumbang Epilachna dan Coccinella dan nematoda. Pengendalian: tidak ada pestisida untuk mengendalikan virus, pencegahan dan pengendalian dilakukan dengan menanam bibit bebas virus, membersihkan peralatan, memangkas dan membakar tanaman sakit, memberantas vektor dan pergiliran tanaman.

3.6. Panen
3.6.1. Ciri dan Umur Panen
Umur panen pada tanaman kentang berkisar antara 90-180 hari, tergantung varietas tanaman. Pada varietas kentang genjah, umur panennya 90-120 hari; varietas medium 120-150 hari; dan varietas dalam 150-180 hari.
Secara fisik tanaman kentang sudah dapat dipanen apabila daunnya telah berwarna kekuning-kuningan yang bukan disebabkan serangan penyakit; batang tanaman telah berwarna kekuningan dan agak mengering. Selain itu tanaman yang siap panen kulit umbi akan lekat sekali dengan daging umbi, kulit tidak cepat mengelupas bila digosok dengan jari.

3.6.2. Cara Panen
Waktu memanen sangat dianjurkan dilakukan pada waktu sore hari/pagi hari dan dilakukan pada saat hari cerah. Cara memanen yang baik adalah sebagai berikut: cangkul tanah disekitar umbi kemudian angkat umbi dengan hati hati dengan menggunakan garpu tanah. Setelah itu kumpulkan umbi ditempat yang teduh. Hindari kerusakan mekanis waktu panen.

3.6.3. Prakiraan Produksi
• Granola/Atlantis: produksi 35-40 ton/ha.
• Red Pontiac: produksi 15 ton/ha.
• Desiree: produksi 18 ton/ha.
• DTO: produksi 20 ton/ha.
• Klon no. 17: produksi 30-40 ton/ha.
• Klon no. 08: produksi 25-30 ton/ha

3.7. Pascapanen
3.7.1. Penyortiran dan Pengolonga
Umbi yang baik dan sehat dipisahkan dengan umbi yang cacat dan terkena penyakit.Kegiatan ini akan mencegah penularan penyakit kepada umbi yang sehat. Kentang di sortir berdasarkan ukuran umbi (tergantung varitas).

3.7.2. Penyimpanan
Simpan umbi kentang dalam rak-rak yang tersusun rapi, sebaiknya ruangan tempat penyimpanan dibersihkan dan disterilisasi dahulu agar terbebas dari bakteri. Simpan di tempat yang tertutup dan berventilasi.

3.7.3. Pengemasan dan Pengangkutan
Alat pengemas harus bersih dan terbuat dari bahan yang ringan. Pengemas harus berventilasi dan di bagian dasar dan tepi diberi bahan yang mengurangi benturan selama pengangkutan.

3.7.4. Pembersihan
Petani konvensional hampir tidak pernah membersihkan umbi. Untuk memasarkan kentang di pasar swalayan/ke luar negeri, kentang harus dibersihkan terlebih dulu. Bersihkan umbi dari segala kotoran yang menempel dengan lap. Lakukan perlahan-lahan jangan sampai menimbulkan lecet-lecet. Selain itu umbi dapat dibersihkan dengan cara dicuci di air mengalir yang tidak terlalu deras kemudian dikeringanginkan. Umbi yang bersih akan memperpanjang keawetan umbi selain itu juga akan menarik konsumen

IV. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN

4.1. Analisis Usaha Budidaya
Biaya produksi 1 hektar kentang Granola adalah Rp. 15.500.000,-. Dalam satu musim tanam dihasilkan : kentang :
• Mutu ABC 18.000 kg (Rp.1.000/kg).
• Apkir 1.000 kg (Rp. 450/kg).
• Kecil 4.000 kg (Rp. 550/kg).
Keuntungan dari satu periode tanam adalah sekitar Rp. 5.100.000,-Perkiraan biaya produksi dan keuntungan budidaya 1 hektar kentang untuk satu musim tanam (6 bulan). Analisis budidaya kentang granola dengan luas lahan 1 ha untuk satu musim tanam (6 bulan) di daerah Bandung, Jawa Barat tahun 1999.


Biaya produksi
Lahan
• Sewa lahan permusim tanam (6 bulan
• Pembuatan gudang

4.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Di awal krisis ekonomi harga komoditi kentang meningkat sampai lebih dari dua kalinya. Saat ini ketika harga komoditi hortikultur lainnya seperti bawang daun dan cabe menurun drastis, harga kentang di pasaran relatif masih sangat baik.
Kentang adalah salah satu komoditi hortikultura yang harganya relatif stabil dan tidak terlalu tergantung musim. Harga yang stabil ini lebih menjamin masa depan agribisnis kentang daripada komoditi hortikultura lainnya.
Walaupun Indonesia sudah mengekspor kentang ke Malaysia melalui Brastagi, peluang ekspor ke negara lainnya harus diambil

V. STANDAR PRODUKSI
5.1. Ruang lingkup
Standar ini meliputi klasifikasi dan syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara pengujian contoh, syarat penandaan dan pengemasan.

5.2. Diskripsi
Kentang yang segar adalah umbi batang dari tanaman kentang dalam keadaan utuh bersih dan segar, sesuai dengan SNI-01-3175-1992

5.3. Klasifikasi dan Standar Mutu
Menurut ukuran berat, kentang segar digolongkan dalam:
• Kecil: 50 gram kebawah.
• Sedang: 51-100 gram.
• Besar: 101-300 gram.
• Sangat besar: 301 gram ke atas.
Menurut jenis mutunya kentang segar digolongkan dalam 2 jenis mutu, yaitu mutu I dan mutu
• Keseragaman warna dan bentuk: mutu I=seragam; mutu II=seragam.
• Keseragaman ukuran: mutu I=seragam; mutu II=seragam.
• Kerataan permukaan kentang: mutu I=rata; mutu II=tidak disyaratkan
• Kadar kotor (bobot/bobot): mutu I=maksimum 2,5%; mutu II=maksimum 2,5%.
• Kentang cacat (bobot/bobot): mutu I=maksimum 5%; mutu II=maksimum 10%.
• Ketuaan kentang: mutu I=tua; mutu II=cukup tua.
Untuk mendapatkan hasil kentang yang sesuai dengan standar maka dilakukan pengujian Yang meliputi:
Penentuan keseragaman ukuran kentang
Timbang seluruh cuplikan, kemudian timbang tiap butir dalam cuplikan. Pisahkan butir-butir yang beratnya diatas/dibawah ukuran berat yang telah ditentukan dan timbanglah semuanya. Bila presentase berat butir yang diatas/dibawah ukuran berat masing-masing sama/kurang dari 5% maka contoh dianggap seragam.

Penentuan kerataan permukaan kentang
Timbang seluruh cuplikan dan ukur benjolan yang terdapat pada tiap butir dalam cuplikan. Pisahkan butir-butir cuplikan yang mempunyai benjolan lebih dari 1 cm sama/kurang dari 10% jumlah cuplikan maka cuplikan dianggap mempunyai permukaan rata.
Penentuan kadar kotoran
Timbanglah sampai mendekati 0,1 gram sebanyak lebih kurang 500 gram cuplikan dalam wadah yang telah ditera sebelumnya dan tuanglah kedalalam sebuah bak kayu yang disediakan khusus untuk itu. Pilihlah kotoran-kotoran dan timbanglah berat masing-masing.
Penentuan cacat pada kentang segar
Timbang seluruh cuplikan dan tentukan butir-butir kentang yang cacat. Pisahkan butir-butir yang cacat dan timbanglah semuanya. Bila presentase berat butir-butir yang cacat sama/kurang dari 50%, maka cuplikan dianggap Mutu I dan bila sama/kurang dari 10% maka cuplikan dianggap Mutu II.
Penentuan ketuaan pada kentang segar
Timbanglah seluruh cuplikan dan tentukan butir contoh yang tua/cukup tua. Pisahkan butir yang tua/cukup tua dan timbanglah semuanya. Bila presentase berat butir contoh yang kulitnya mengelupas beratnya lebih dari ¼ bagian permukaannya sama/kurang dari 5%, maka cuplikan dianggap tua dan bila sama/kurang dari 10%, maka cuplikan dianggap cukup tua.

5.4. Pengambilan Contoh
Contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan seperti terlihat berikut ini. Tiap kemasan diambil contoh sebanyak 10 kg dari bagian atas, tengah dan bawah. Contoh tersebut dicampur merata tanpa menimbulkan kerusakan, kemudian dibagi menjadi empat dan dua bagian diambil secara diagonal.
Cara ini dilakukan beberapa kali sampai contoh mencapai 10 kg.
• Untuk jumlah kemasan dalam lot 1 sampai 3, contoh yang diambil semua.
• Untuk jumlah kemasan dalam lot 4 sampai 25, contoh yang diambil 3.
• Untuk jumlah kemasan dalam lot 26 sampai 50, contoh yang diambil 6.
• Untuk jumlah kemasan dalam lot 51 sampai 100, contoh yang diambil 8.
• Untuk jumlah kemasan dalam lot 101 sampai 150, contoh yang diambil 10.
• Untuk jumlah kemasan dalam lot 151 sampai 200, contoh yang diambil 12.
• Untuk jumlah kemasan dalam lot 201 atau lebih, contoh yang diambil 15.

Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu orang yang berpengalaman atau dilatih lebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan badan hukum.

5.5. Pengemasan
Kentang disajikan dalam bentuk utuh dan segar. Dikemas dengan keranjang/bahan lain dengan berat netto maksimum 80 kg dan ditutup dengan anyaman bambu kemudian diikat dengan tali rotan/bahan lain. Isi kemasan tidak melebihi permukaan.
Di dalam keranjang atau kemasan diberi label yang bertuliskan :
• Nama barang.
• Jenis mutu.
• Nama/kode perusahaan/eksportir.
• Berat netto.
• Produksi Indonesia.
• Negara/tempat tujuan.

http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2009/06/budidaya-kentang.html

Kamis, 28 Januari 2010

Prospek Budidaya Teh Organik Oleh Vanaresya

BAB I
PENDAHULUAN

A. Sejarah Teh
Teh berasal dari perbatasan negara-negara Cina Selatan, Laos Barat Laut, Muangthai Utara, Burma Timur, dan India Timur Laut. Pada tahun 1686,teh mulai diperkenalkan oleh Anfreas Cleyer di perkebunan Batavia Nusantara Indonesia. Tahun 1826-1828,percobaan-percobaan di Kebun Botani di Bogor berhasil Tahun 1843 Robert Fortune menemukan teh hitam dan teh hijua karena prosesnya bukan tanamannya.
Tahun 1910-1928 merupakan periode puncak laju pertumbuhan teh per tahun per hektare menjadi rata-rata 6,3 % dengan laju pertumbuhan penanaman yang jauh lebih tinggi pada tahun 1910-1940. Menjelang PD II teh memberikan keuntungan besar bagi kas negeri pemerintah kolonial.
B. Sisi Kultural dan Manfaat Tanaman Teh
Di Indonesia semua kalangan dari atas hingga bawah tak ada yang tak mengenal teh. Minuman teh menjadi minuman wajib untuk menjamu tamu. Di Bumi Parahyangan, setiap tamu di rumah makan sunda selalu disodori teh tawar sebelum makan/minum berat
Dari segi manfaat, berdasarkan hasil penelitian teh memiliki kemampuan untuk:
1. Menghambat pembentukan sel kanker
2. Mencegah penyakit jantung dan stoke
3. Menstimulir sistem sirkulasi
4. Memperkuat pembuluh darah
5. Menurunkan kolesterol
C. Ekspor Teh dan Indiustri Perkebunan Teh
Volume ekspor teh Indonesia pada tahun 1999 sebanyak 99.847 ton Indonesia menempati urutan ke 5 terbesar negara eksportir teh. Adapun daftar negara lain yang cukup besar dalam ekspor teh nya adalah:
1. Inggris
2. Pakistan
3. Irak
4. Amerika Serikat
5. Belanda
6. India
Industri perkebunan teh di Indonesia telah menghasilkan teh yang berkualitas ekspor. Untuk lebih meningkatkan nilai tambah produk, sebaiknya industri teh didiversifikasi ke arah pembuatan produk teh. Pendirian industri pengemasan teh siap konsumsi merupakan alternatif menarik dalam agribinis teh.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Budidaya Teh Organik
Budi daya teh organik menjadi salah satu alternatif dalam menghasilkan teh bebas bahan pencemar. Pada dasarnya, bertanam secara organik merupakan cara budi daya dengan menggunakan bahan-bahan organik atau bahan alami pada semua tahap kegiatan, mulai dari:
1. penyiapan lahan
2. Pemupukan
3. pengendalian hama, penyakit, dan gulma.
Cara-cara bertanam ini bertumpu pada siklus alami yang telah ada. Pengusahaan teh organik semakin menarik dan mendapatkan tantangan dengan semakin meningkat nya permintaan pasar terhadap produk teh organik. Setiap tahun permintaan mencapai ± 2.500 ton dengan harga yang jauh lebih tinggi (2-3 kali lipat) dibanding teh yang diproduksi secara konvensional.
Teknik Budidaya Teh Organik
• Klon Teh
: Klon teh yang digunakan adalah klon yang tahan terhadap hama dan penyakit, mampu beradaptasi dengan iklim lokal, dan tahan terhadap cekaman kekeringan ataupun hara.
• Kadar Bahan Organik
: Kadar bahan organik tanah ditingkatkan menjadi 8-10%. Pemberian bahan organik atau kompos akan meningkatkan kadar air pada kapasitas lapang dan jumlah air tersedia serta menurunkan kadar air pada titik layu permanen.
• Kualitas Hara
: Kualitas hara diatur dengan prinsip keseimbangan hara. Pupuk buatan tidak boleh digunakan, bukan karena residunya, melainkan karena dalam pembuatannya
• Pengendalian Hama dan Penyakit
: Pengendalian hama dan penyakit
dilakukan dengan pengaturan iklim mikro atau dengan mengintroduksi musuh alami (MA), fungisida tembaga oksida, insektisida nabati, atau mikroba.
B. Prospek Teh Organik
Kecenderungan konsumen akan makanan atau minuman bebas bahan pencemar yang semakin meningkat akan mendongkrak permintaan akan teh organik. Apalagi dalam menghadapi pasar global, produk organik merupakan suatu persyaratan yang harus dipenuhi.Diperkirakan harga teh organik mencapai 2- 3 kali lipat atau lebih daripada harga teh biasa sehingga budi daya teh organik dapat menjadi usaha yang menguntungkan.
Negara-negara yang telah menghasilkan teh organik adalah China, India, Jepang, Sri Lanka, Tanzania, dan Malawi dengan luas total 3.810 ha dan produksi 2.346 ton dengan rata-rata produktivitas 0,67 t/ha. Laporan terakhir pada International Conference on Organic Tea di India pada tahun 1997 menyebutkan bahwa produktivitas tersebut masih dapat meningkat dengan semakin mantapnya teknik budi daya teh organik. Diperkirakan kebutuhan dunia akan teh organik belum dapat dipenuhi oleh negara-negara tersebut.
C. Pengolahan Teh Organik
Tahap pengolahan teh organik sama dengan teh konvensional. Tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pemetikan.
: Pemetikan dapat dilakukan secara manual dengan tangan atau dengan alat (gunting petik/mesin petik). Pelabelan dimulai dari sini dengan memberikan ciri tersendiri pada pemetik, misalnya warna topi yang berbeda.
2. Wadah dan pengangkutan.
: Wadah pucuk (waring) dibuat berbeda dengan waring pucuk yang lain atau diberi label ORGANIK. Label memuat lokasi pemetikan, mandor petik, dan waktu atau hari pemetikan. Truk pengangkut juga dipisahkan.

3. Pelayuan.
: Tempat pelayuan di pabrik juga dipisahkan serta diberi label ORGANIK pada setiap withewring trough (WT).
Label memuat lokasi pemetikan dan pemetik berikut mandornya.
4. Open top roller (OTR).
:Penggilingan pada OTR juga harus dipisahkan. Kalau OTR lebih dari satu, penggilingan teh organik dikerjakan pada OTR tersendiri dan diberi label ORGANIK.
5. Rotorvane.
: Apabila hanya terdapat satu rotorvane, pastikan bahwa rotorvane yang akan digunakan bersih dari sisa-sisa teh nonorganik sebelumnya dan diberi label ORGANIK.
6. Press cup roller (PCR).
: Penggilingan pada PCR juga dipisahkan dan tetap harus diberi label
ORGANIK.
7. Ayakan.
:Penggunaan ayakan juga dipisahkan berdasarkan waktu pengayakan. Penggilingan teh organik harus didahulukan dan pastikan bahwa sebelum ayakan digunakan sudah tidak ada sisa-sisa teh dari penggilingan sebelumnya, dan tentu diberi label ORGANIK.
8. Oksidasi.
: Pelaksanaan oksidasi enzimatis dipisahkan dan diberi label ORGANIK.
9. Pengeringan.
: Pengeringan teh organik dilakukan terlebih dahulu sebelum teh nonorganik. Pastikan bahwa sebelum mesin pengering digunakan sudah tidak ada sisa-sisa teh nonorganik dan diberi label ORGANIK.
10.Sortasi.
: Pada saat sortasi kering, teh organik didahulukan dan diberi label ORGANIK.

11.Peti miring.
:Bila belum ada peti miring yang terpisah, penyimpanan dapat menggunakan karung plastik ganda yang dapat menyimpan teh kering dengan baik. Karung yang telah diisi cukup kemudian dimasukkan ke dalam paper sack.
12.Pengepakan
: dilakukan sebagaimana pengepakan teh nonorganik. Pada packing-nya diberi tambahan keterangan produk teh yang diisikan; apakah dari teh konversi atau sudah teh organik. Bila telah mendapatkan sertifikat dari Skal, maka label organik dicantumkan pada packing dengan lambang yang sifatnya internasional. Skal memberikan logo produk organic dengan tulisan ECO berwarna putih pada bujur sangkar dengan dasar warna hitam. Semua produk yang mencantumkan logo tersebut dijamin telah dibudidayakan secara organic dan pengolahannya tidak menggunakan bahan tambahan dari bahan-bahan kimia

BAB III
PENUTUP
Di Indonesia semua kalangan dari atas hingga bawah tak ada yang tak mengenal teh. Volume ekspor teh Indonesia pada tahun 1999 sebanyak 99.847 ton Indonesia menempati urutan ke 5 terbesar negara eksportir teh. Industri perkebunan teh di Indonesia telah menghasilkan teh yang berkualitas ekspor.
Budi daya teh organik menjadi salah satu alternatif dalam menghasilkan teh bebas bahan pencemar. Pada dasarnya, bertanam secara organik merupakan cara budi daya dengan menggunakan bahan-bahan organik atau bahan alami pada semua tahap kegiatan, mulai dari:
1. penyiapan lahan
2. Pemupukan
3. pengendalian hama, penyakit, dan gulma.
Cara-cara bertanam ini bertumpu pada siklus alami yang telah ada. Pengusahaan teh organik semakin menarik dan mendapatkan tantangan dengan semakin meningkat nya permintaan pasar terhadap produk teh organik. Setiap tahun permintaan mencapai ± 2.500 ton dengan harga yang jauh lebih tinggi (2-3 kali lipat) dibanding teh yang diproduksi secara konvensional.
Tahap pengolahan teh organik sama dengan teh konvensional. Tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pemetikan
2. Wadah dan pengangkutan.
3. Pelayuan.
4. Open top roller (OTR).
5. Rotorvane
6. Press cup roller (PCR).
7. Ayakan.
8. Oksidasi
9. Pengeringan.
10. Sortasi.
11. Peti miring.
12. Pengepakan

Prospek Agribisnis Lidah Buaya (Aloe vera ) Oleh Refida Ifna 07115024

PROSPEK AGRIBISNIS LIDAH BUAYA (ALOE VERA ) DI KALIMANTAN BARAT

Lidah buaya (Aloe vera) merupakan komoditas unggulan andalan Kalimantan Barat yang memiliki keunggulan komparatif, terutama di kota Pontianak (Siatan) dan kabupaten pontianak. Tumbuh dengan baik di lahan gambut. Di kota pontianak saja berpotensi 1.100 ha dari 450.000 ha, jadi sangat potensial. Peluang pengembangan tanaman ini ke kabupaten lain, yang agroekosistemnya sama lahan gambut, sangat besar.
Lidah buaya mulai di usahakan sekitar tahun 1980. Perkembangannya mendapat sambutan dari masyarakat yang dibuktikan dengan meningkatnya luas tanam dan produksi selama 6 tahun (1996-2001) rata-rata peningkatan luas tanam sebesar 43,08%. Ini mengindikasikan bahwa motivasi petani untuk membudidayakan lidah buaya cukup tinggi, sekaligus mengilustrasikan bahwa usahatani lidah buaya member intensif yang cukup baik.
Komoditas lidah buaya adalah salah satu peluang investasi di sektor pertanian, khususnya tanaman pangan hortikultura yang sangat prospek untuk dikembangkan karena permintaan pasar terhadap komoditas tersebut semakin meningkat.
Pengembangan agribisnis lidah buaya memiliki prospek sangat bagus dilihat dari segi keterlibatan masyarakat dan manfaat yang ditimbulkannya, antara lain: Cara pembudidayaan lidah buaya relatif mudah; Mendorong tumbuhnya industri pedesaan baik sektor hulu maupun sektor hilir, sehingga dapat memperluas lapangan kerja di pedesaan; Penganeka-ragaman produknya sangat beragam dari mulai makanan dan minuman, bahan baku kosmetika, dan bahan baku obat-obatan; Nilai tambah produk hilirnya cukup besar; Permintaan produk olahannya mempunyai pasar yang bagus.
Hingga saat ini sebagian besar tanaman lidah buaya diolah menjadi makanan dan minuman atau diekspor dalam bentuk pelepah segar ke Negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia dan Brunai Darussalam. Produk olahan tersebut seperti minuman lidah buaya (paling Terkenal). Namun sudah di mulai adanya produk olahan berupa selai lidah buaya, teh lidah buaya, dodol lidah buaya, rendang daun lidah buaya, cake multi gizi lidah buaya. Sayangnya, walaupun Kalimantan barat sentra lidah buaya, tetapi belum ada perusahaan agroindustri di Kalimantan Barat. Tetapi industry-industri pengolahan lidah buaya sudah banyak berkembang di luar Kalimantan Barat yang mengolah lidah buaya menjadi makanan, minuman kesehatan, masker, hand body, shampoo, penguat rambut, sunsilk, Vaseline, shampoo biokos, hairtonic, dan masih banyak yang lainnya.
Sehinnga apabila hasil olahan terbatas dan ekspor hanya dalam bentuk bahan baku hanya akan memberikan sedikit nilai tambah. Nilai tambah akan diperoleh jika tanaman lidah buaya diolah menjadi produk yang dibutuhkan industri sebagai bahan baku industri lanjutan.
Industri lanjutan yang berbahan baku tanaman lidah buaya antara lain industri farmasi dan kosmetika. Sebagai bahan baku, tanaman lidah buaya tidak bisa digunakan secara langsung dalam bentuk pelepah segar, tetapi harus diolah dahulu menjadi gel (aloe gel) atau tepung (aloe powder). Rasio kebutuhan pelepah segar terhadap produk olahan seperti tepung lidah buaya sangat besar, bahkan perbandingan untuk tepung lidah buaya dengan kualitas sangat baik dapat mencapai 150 : 1. Tepung dengan kualitas tersebut dengan berat yang sama nilai rupiahnya bisa mencapai seribu empat ratus kali lipat dari bahan bakunya.
Ini artinya adalah bahwa dari sisi bisnis, komoditi tersebut sangat berpotensi untuk dikembangkan, sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani dan pelaku industri pengolahannya, yang pada akhirnya akan berdampak positif pada peningkatan ekonomi wilayah. Oleh karena itu, apabila komoditi tersebut akan dikembangkan pengusahaannya, maka sebaiknya industri yang memproduksi gel ataupun tepung harus memiliki kontinuitas ketersediaan bahan baku (pelepah segar). Kondisi tersebut dapat tercapai jika industri dan budidaya terkait secara langsung dalam suatu klaster bisnis.
Adanya klaster bisnis yang mengkaitkan industri dan budidaya yang didukung dengan kehadiran institusi yang kuat, diantaranya akan dapat mencegah terjadinya perebutan bahan baku yang dapat berakibat mematikan industri hilir. Kondisi tersebut justru akan memberikan jaminan kepastian pasar bagi hasil panennya selain dimungkinkan adanya bantuan sarana produksi dan pendampingan dalam penggunaan teknologi. Agribisnis dengan berbasis tanaman lidah buaya dimaksud adalah pengusahaan komoditi lidah buaya mulai dari budidaya, agroindustri (industri pengolahan) dan pemasaran hasil produk akhirnya.
Selain itu pengembangan lidah buaya berpotensi baik karena kandungan gizi yang terkandung di dalam lidah buaya tersebut.
 Mengandung Antioksidan,
Menurut Dr. Freddy, beberapa unsure herbal mineral yang terkandung dalam lidah buaya untuk herbal food juga ada yang berfungsi sebagai pembentuk antioksidan alami. Misalnya vitamin C, vitamin E, dan zinc. “Bahkan hasil penelitian yang dilakukan ilmuwan asal Amerika Serikat menyebutkan bahwa dalam Aloevera barbadensis miller herbal products terdapat beberapa zat yang bisa berfungsi sebagai antioksidan.
 Mengandung zat lignin, mampu menembus dan meresap ke dalam kulit
Lidah buaya untuk natural herbal bersifat merangsang pertumbuhan sel baru pada kulit. Dalam lendir lidah buaya yang digunakan untuk natural herbal food terkandung zat lignin yang mampu menembus dan meresap ke dalam kulit. Lendir ini akan menahan hilangnya cairan tubuh dari permukaan kulit. Hasilnya, kulit tidak cepat kering dan terlihat awet muda.
 Mengandung laktasit, membantu mengatasi sembelit atau sulit buang air besar
Lidah buaya juga membantu mengatasi sembelit atau sulit buang air besar karena lendirnya bersifat pahit dan mengandung laktasit, sehingga merupakan pencahar yang baik.
Selanjutnya lidah buaya juga mengandung khasiat yang juga dapat menguntungkan, khasiat lidah buaya tersebut antara lain adalah :
 Menyuburkan rambut
 Untuk mengobati sejumlah penyakit (diabetes melitus dan serangan jantung)
 Luka bakar atau tersiram air panas
 Bisul
 Untuk mengobati Wasir
 Penurunan Kolestrol
 Cacingan, susah buang air kecil
 Sembelit
 Jerawat, noda-noda hitam
 Batuk (yang membandel)
 Diabetes
 Radang tenggorokan
 Perawat dan Pencegah Infeksi Lambung dan Usus 12. Pembunuh rasa sakit
 Perawatan kulit (scrub, tabir surya dan anti gigitan serangga)
 Bahan kosmetik dan pelembab (pH yang seimbang dengan kulit).
Selain khasiat diatas ternyata kandungan dalam lidah buaya juga berfungsi sebagai sistem pertahanan tubuh yang diperkirakan dapat menghambat kerja virus HIV dengan menstimulasi sistem kerja kekebalan tubuh penderitanya.
Walaupun Kalbar sentra lidah buaya, tetapi belum ada perusahaan agroindustri di Kalbar.Tetapi industri-ndustri pengolahan lidah buaya sudah banyak berkembang di luar Kalbar
Masalah dalam sistem agribisnis lidah buaya di Kalimantan Barat adalah pemasaran. Hal ini diindikasikan oleh kecilnya lidah buaya segar yang dapat dipasarkan, yaitu 6,85% dari total Produksi, sedangkan sisanya ditunda panen. Untuk membuka pangsa pasar baru bagi lidah buaya segar dapat ditempuh dengan cara yaitu mendorong masuknya eksportir baru untuk menambah pangsa pasar di luar negeri dan mendorong masuknya investor untuk membangun industri pengolahan lidah buaya (pangsa pasar lokal). Lokomotif dalam suatu system agribisnis adalah dunia usaha, karena mereka mempunyai instik bisnis tinggi, dan profesionalisme dalam aktifitas bisnis.
Pangsa pasar riil yg dinikmati oleh petani masih terbatas, akan tetapi potensi pangsa pasar lidah buaya yg belum tergali baik di dalam maupun di luar negeri cukup potensial
Permintaan lidah buaya di Kalimantan cukup baik, mencakup segmen pasar, yaitu: permintaan untuk konsumsi rumah tangga, restoran, salon kecantikan, industri minuman kemasan, Ekspor (Malaysia, Taiwan, dan Hongkong). Bahkan untuk memenuhi kebutuhan lidah buaya segar secara kontinue, perlu dilakukan pengembangan lidah buaya ini ke kabupaten lain di kalimantan Barat, terutama pada lahan gambut dengan kedalaman 0,5-2 meter.
Kemampuan ekspor lidah buaya rata-rata per bualan adalah 48,94 ton. Jumlah tersebut masih jauh lebih kecil dibanding kemampuan produksi (supply) yaitu 742,60 ton per bulan (tahun 2001). Permintaan luar Kalimantan Barat hanya 6,59% dari total produksi, sedangkan permintaan lokal hanya 0,26%, sisanya 93,15% di tunda panen.
Trend pasar global menunjukkan bahwa pasar produk herbal (salah satunya lidah) sudah mencapai jutaan dolar Amerika, atau boleh dikatakan meningkat. Sehingga perlu diperhatikan beberapa spesifikasi daun lidah buaya yang diinginkan oleh pasar luar negri, spesifikasi tersebut antara lain adalah
 Bobot daun lebih dari 1 kg
 Lebar daun lebih dari 10 cm
 Bentuk daun helai rata, tidak cekung
 Ketebalan daginglebih dari 2 cm (dalam negeri), lebih dari 3 cm (luar negeri)
 Kekerasan daging keras (relatif)
 Serat lembut dan tidak berwarna.
Dalam rangka otonomi daerah, pemda Kalimantan Barat harus berperan sebagai dinamisator, regulator dan inisiator. Pemerintah daerah harus memberikan kontribusinya berupa: infrasturktur, perkreditan, kebijakan, transportasi dan komunikasi informasi dan penyuluhan serta penelitian dan pengembangan. Di samping itu Pemda harus mapu mendorong masyarakat untuk berperan sebagai distributor saprodi, suplier pupuk organik (peternak ayam, petani tambak, peternak babi), petani, investor, pedagang lokal, dan eksportir.
Pemda juga perlu mengadakan regulasi agar ada kejelasan pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan agribisnis lidah buaya. Harus dirumuskan siapa saja pelaku-pelaku agribisnis lidah buaya pada masing-masing subsistem agribisnis.
Selanjutnya agar tidak terjadinya kesalahpahaman dalam pengembangan agribisnis lidah buaya ini juga diperlukan koordinasi yang sinergis antara pelaku-pelakunya. Koordinasi harus dilakukan secara keseluruhan, tidak terbatas pada pelaku-pelaku yang berhubungan dengan komoditas lidah buaya secara langsung, akan tetapi juga pihak-pihak yang terkait secara tidak langsung, seperti peternak ayam, petani tambak, dll
Dalam pengembangan lidah buaya harus didorong terciptanya aktifitas usaha yang mengarah pada homeindustri/industri baik pada subsistem off farm hulu, subsistem on farm maupun subsistem off farm hilir.
Adanya home industri/industri pada berbagai subsistem, maka bangunan sistem agribisnis akan semakin kokoh. Industri hilir yang perlu dikembangkan adalah usaha pembuatan bahan-bahan organik seperti abu, kompos, dll.
Industri on farm misalnya usaha tani pola kemitraan atau model inti plasma. Sedangkan industri hulu misalnya industri pengolahan lidah buaya seperti powdering, gel, minuman, makanan, kosmetik, dll.

KESIMPULAN

Lidah buaya (Aloe vera) merupakan komoditas unggulan andalan Kalimantan Barat yang memiliki keunggulan komparatif, terutama di kota Pontianak (Siatan) dan kabupaten pontianak. Tumbuh dengan baik di lahan gambut.
Komoditas lidah buaya adalah salah satu peluang investasi di sektor pertanian, khususnya tanaman pangan hortikultura yang sangat prospek untuk dikembangkan karena permintaan pasar terhadap komoditas tersebut semakin meningkat.
Pengembangan agribisnis lidah buaya memiliki prospek sangat bagus dilihat dari segi keterlibatan masyarakat dan manfaat yang ditimbulkannya, antara lain: Cara pembudidayaan lidah buaya relatif mudah; Mendorong tumbuhnya industri pedesaan baik sektor hulu maupun sektor hilir, sehingga dapat memperluas lapangan kerja di pedesaan; Penganeka-ragaman produknya sangat beragam dari mulai makanan dan minuman, bahan baku kosmetika, dan bahan baku obat-obatan; Nilai tambah produk hilirnya cukup besar; Permintaan produk olahannya mempunyai pasar yang bagus.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Kandungan Yang Ada Dalam Lidah Buaya. http://resepherbal.e-salim.com/
Musyafak, Akmad. 2003. Agribisnis Lidah Buaya di Kalimantan Barat Berprospek, tapi belum Tergarap. BPTP Kalimantan Barat. Tabloid Sinar Tani.
Sulaeman, Suhendar. 2006. Model Pengembangan Agribisnis Komoditi Lidah Buaya (Aloevera). Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Jakarta.

Teknik fermentasi dalam pengolahan biji kakao Oleh Dini Syafitri 07115033

Teknik fermentasi dalam pengolahan biji kakao

kakao

Kakao merupakan salah satu komoditas ekspor yang dapat memberikan kontribusi untuk peningkatan devisa Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara pemasok utama kakao dunia setelah Pantai Gading (38,3%) dan Ghana (20,2%) dengan persentasi 13,6%. Permintaan dunia terhadap komoditas kakao semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hingga tahun 2011, ICCO (International Cocoa Organization) memperkirakan produksi kakao dunia akan mencapai 4,05 juta ton, sementara konsumsi akan mencapai 4,1 juta ton, sehingga akan terjadi defisit sekitar 50 ribu ton per tahun (Suryani, 2007). Kondisi ini merupakan suatu peluang yang baik bagi Indonesia karena sebenarnya Indonesia berpotensi untuk menjadi produsen utama kakao dunia.

Namun, kualitas biji kakao yang diekspor oleh Indonesia dikenal sangat rendah (berada di kelas 3 dan 4). Hal ini disebabkan oleh, pengelolaan produk kakao yang masih tradisional (85% biji kakao produksi nasional tidak difermentasi) sehingga kualitas kakao Indonesia menjadi rendah. Kualitas rendah menyebabkan harga biji dan produk kakao Indonesia di pasar internasional dikenai diskon USD200/ton atau 10%-15% dari harga pasar. Selain itu, beban pajak ekspor kakao olahan (sebesar 30%) relatif lebih tinggi dibandingkan dengan beban pajak impor produk kakao (5%), kondisi tersebut telah menyebabkan jumlah pabrik olahan kakao Indonesia terus menyusut (Suryani, 2007). Selain itu para pedagang (terutama trader asing) lebih senang mengekspor dalam bentuk biji kakao (non olahan).

Peningkatan produksi kakao mempunyai arti yang strategis karena pasar ekspor biji kakao Indonesia masih sangat terbuka dan pasar domestik masih belum tergarap. Permasalahan utama yang dihadapi perkebunan kakao dapat diatasi dengan penerapan fermentasi pada pengolahan biji pasca panen dan pengembangan produk hilir kakao berupa serbuk kakao.

coklat

Coklat

Proses fermentasi akan menghasilkan kakao dengan cita rasa setara dengan kakao yang berasal dari Ghana. Selain itu, kakao Indonesia memiliki kelebihan tidak mudah meleleh sehingga cocok untuk blending.

Fermentasi merupakan suatu proses produksi suatu produk dengan mikroba sebagai organisme pemroses. Fermentasi biji kakao merupakan fermentasi tradisional yang melibatkan mikroorganisme indigen dan aktivitas enzim endogen. Fermentasi biji kakao tidak memerlukan penambahan kultur starter (biang), karena pulp kakao yang mengandung banyak glukosa, fruktosa, sukrosa dan asam sitrat dapat mengundang pertumbuhan mikroorganisme sehingga terjadi fermentasi.
Tahapan pengolahan pasca panen kakao yaitu buah hasil panen dibelah dan biji berselimut pulp dikeluarkan, kemudian dikumpulkan pada suatu wadah. Jenis wadah yang digunakan dapat bervariasi, diantaranya drying platforms (Amerika), keranjang yang dilapisi oleh daun, dan kontainer kayu. Kontainer disimpan di atas tanah atau di atas saluran untuk menampung pulp juices yang dihasilkan selama fermentasi (hasil degradasi pulp). Pada umumnya, dasar kontainer memiliki lubang kecil untuk drainase dan aerasi. Kontainer tidak diisi secara penuh, disisakan 10 cm dari atas dan permukaan atas ditutupi dengan daun pisang yang bertujuan untuk menahan panas dan mencegah permukaan biji dari pengeringan. Fermentasi dalam kotak dapat dilakukan selama 2 – 6 hari, isi kotak dibalik tiap hari dengan memindahkannya ke kotak lain.

Fermentasi biji kakao akan menghasilkan prekursor cita rasa, mencokelat-hitamkan warna biji, mengurangi rasa-rasa pahit, asam, manis dan aroma bunga, meningkatkan aroma kakao (cokelat) dan kacang (nutty), dan mengeraskan kulit biji menjadi seperti tempurung. Biji yang tidak difermentasi tidak akan memiliki senyawa prekursor tersebut sehingga cita rasa dan mutu biji sangat rendah. Fermentasi pada biji kakao terjadi dalam dua tahap yaitu fermentasi anaerob dan fermentasi aerob. Keberadaan asam sitrat membuat lingkungan pulp menjadi asam sehingga akan menginisiasi pertumbuhan ragi dan terjadi fermentasi secara anaerob. Fermentasi aerob diinisiasi oleh bakteri asam laktat dan bakteri asam asetat. Produk fermentasi yang dihasilkan berupa etanol, asam laktat, dan asam asetat yang akan berdifusi ke dalam biji dan membuat biji tidak berkecambah.

Selama fermentasi terjadi pula aktivitas enzimatik, enzim yang terlibat adalah endoprotease, aminopeptidase, karboksipeptidase, invertase (kotiledon dan pulp), polifenol oksidase dan glikosidase. Enzim-enzim ini berperan dalam pembentukan prekursor cita rasa dan degradasi pigmen selama fermentasi. Prekursor cita rasa (asam amino, peptida dan gula pereduksi) membentuk komponen cita rasa di bawah reaksi Maillard (reaksi pencoklatan non-enzimatis) selama penyangraian.

Untuk menghentikan proses fermentasi, biji kakao kemudian dikeringkan. Pengeringan dilakukan sampai kadar air menjadi 7 – 8 % (setimbang dengan udara berkelembaban 75 %). Kadar air kurang dari 6 %, biji akan rapuh sehingga penanganan serta pengolahan lanjutnya menjadi lebih sulit. Kadar air lebih dari 9 % memungkinkan pelapukan biji oleh jamur. Pengeringan dengan pemanas simar surya dapat memakan waktu 14 hari, sedangkan dengan pengeringan non surya memakan waktu 2 – 3 hari.

Setelah pengeringan, biji disortir untuk membersihkan biji dan dilanjutkan dengan penyangraian pada suhu 210 C selama 10 – 15 menit. Tujuan dari penyangraian adalah untuk mensterilisasi biji serta pembentukan cita rasa dari prekursor cita rasa (hasil fermentasi) melalui reaksi Maillard.

Pada saat panen, petani coklat Indonesia memiliki kecenderungan untuk mengolah biji coklat tanpa fermentasi dengan cara merendam biji dalam air untuk membuang pulp dan dilanjutkan dengan penjemuran, dengan demikian biji siap dijual tanpa memerhatikan kualitas. Langkah tersebut diambil petani untuk mendapatkan hasil penjualan yang cepat karena jika melalui fermentasi diperlukan waktu inkubasi sehingga petani harus menunggu untuk mendapatkan keuntungan dari penjualan, sedangkan fermentasi merupkan kunci penting untuk memberikan cita rasa coklat. Dengan demikian, pengetahuan mengenai pentingnya fermentasi pada biji kakao perlu disebarluaskan pada petani coklat.

Produk yang melalui proses fermentasi sehingga diperoleh cita rasa coklat yang sesungguhnya dengan cost production yang relatif rendah. Fermentasi dapat dilakukan secara tradisional dan tidak memerlukan treatment khusus, hanya diperlukan wadah fermentasi dari kayu, ruang penyimpanan, lahan untuk menjemur, dan mesin penyangrai.

Sumber:

· TK-4231 / Industri Pangan Pengolahan Cokelat/Kakao (1), Dr. Tatang H. Soerawidjaja

· Suryani, Dinie, Zulfebriansyah, 2007. Komoditas Kakao : Potret dan Peluang Pembiayaan. Economic Review : 210 . Desember 2007.

· Carl E Hansen, Margarita del Olmo and Christine Burri. 1998. Enzyme Activities in Cocoa Beans During Fermentation. J Sci Food Agric: 77, 273È281.

· w gak gimana cara mengolah buah kakao hingga difermentasi?????mulai dari metiknya,, belah buahnya,









Coklat Itu Enak Loh!!!

Posted in Pengolahan Kakao on March 26, 2008 by AFANDY

nyummy….coklat01txt.jpeg

Coklat terbuat dari biji pohon Theobroma cacao atau kakao. Theobroma berasal dari bahasa Yunani yang artinya ‘food of Gods’. Bangsa Indian Aztec kuno membudidayakan pohon kakao dan menggunakan biji kakao sebagai alat tukar. Mereka juga menemukan cara mengolah biji coklat dengan menumbuknya menjadi pasta untuk dijadikan minuman. Bangsa Eropa membawa minuman ini dari benua Amerika. Dengan menambahkan pemanis, minuman ini menjadi minuman yang mahal dan mewah.

Pada abad 19, coklat dalam bentuk padat menjadi populer dengan mencetak batangan coklat pada cetakan kue. Biji coklat digiling dengan mesin sehingga didapatkan serbuk coklat halus yang bisa dipanaskan hingga meleleh lalu dituang pada cetakan.
Coenrad Van Houten (Belanda) menemukan cara pengolahan coklat yang lebih baik pada taun 1825. Biji coklat ditumbuk menjadi pasta lalu diekstrak pada tekanan tinggi hingga didapat cocoa butter dan chocolate liqour. Cocoa butter yg dihasilkan lebih lembut daripada pasta coklat hasil proses biasa. Di tahun 1880, Rudolphe Lindt (Swiss) menambahkan cocoa butter saat pembuatan chocolate agar coklat yang dihasilkan lebih lembut dan licin. Cocoa butter meleleh pada temperatur tubuh manusia. Itulah sebabnya kenapa coklat meleleh di mulut, hmmm yummy.

Daniel Peter (Swiss) di taun 1875, menambahkan susu pada pembuatan coklat. Menghasilkan milk chocolate yang rasanya lebih manis dan lembut dari dark chocolate. Sebagian coklat yang ada sekarang merupakan jenis milk chocolate. Dibandingkan dengan produk2 berasa manis lainnya, coklat adalah yang paling populer. Coklat dapat memberikan kita rasa nyaman dan ketagihan pada yang mengkonsumsi. Seperti makanan manis lainnya, coklat dapat merangsang tubuh melepaskan hormon endorphin. Hormon alami dalam tubuh yang menyebabkan perasaan senang dan nyaman. Coklat dapat membuat kita merasa lebih baik karena mengandung theobromine, yang dapat menstimulan susunan syaraf pusat sehingga kita menjadi merasa rileks. Coklat juga mempengaruhi jaringan neurotransmitter pada otak. Neurotransmitter adalah pengirim pesan kimiawi pada otak. Bekerja dengan mengirimkan sinyal elektrik di antara sel2 saraf. Sinyal yg dihasilkan ini menyebabkan perubahan emosi.

Coklat juga mengandung Tryptophan, ‘love drug’ alami yang digunakan otak untuk memproduksi serotonin. Tingkat serotonin yang tinggi dapat membuat perasaan riang. Selain tryptophan (chocolate’s ecstasy), ada lagi zat kimia phenylethylamine atau chocolate’s amphetamine. Tingkat phenylethylamine yg tinggi dapat meningkatkan perasaan attraction dan excitement. Phenylethylamine bekerja merangsang pusat kesenangan pada otak. Rangsangan2 pada otak itulah yang membuat ketagihan pada para pengkonsumsi coklat.

Beberapa scientist berpendapat bahwa coklat baik untuk kesehatan. Peneliti di Osaka University – Jepang berpendapat bahwa kulit ari biji kakao mengandung antibacterial agent yang dapat menghambat pembentukan plak pada gigi. Tapi menurut gw sih, gula yang terkandung dlm coklat justru membuat gigi rusak. Peneliti dari California, Prof. Carl Keen dan timnya berpendapat bahwa coklat baik untuk kesehatan jantung karena mengandung flavinoids yang mampu menghambat pembekuan darah. Namun hal ini diragukan mengingat bahwa riset yg dilakukan oleh Keen didanai oleh produsen coklat Mars. Kandungan lemak yang tinggi pada coklat meningkatkan resiko terhadap penyakit jantung. Namun coklat juga dapat meningkatkan HDL, jenis kolesterol yang membantu mencegah penyumbatan lemak pada arteri. Satu hal lagi, kadar theobromine yang terkandung dalam coklat aman bagi tubuh kita. Tetapi tidak pada binatang peliharaan kaya anjing dan kucing. Dosis yang aman bagi kita bisa memberikan pengaruh mematikan pada jantung dan susunan saraf hewan peliharaan. Jadi buat yang punya kucing peliharaan, jangan dikasi makan coklat. Mending coklatnya buat gw aja heheh.

Fermentasi kakao

Salah satu tahapan penting dalam penanganan pascapanen kakao adalah proses fermentasi. Penanganan pascapanen kakao dimulai sejak pemetikan buah, fermentasi sampai pengeringan dan pengemasan. Proses fermentasi berlangsung secara alamiah selama beberapa hari. Tahapan ini sangat penting dilalui untuk mempersiapkan biji kakao basah menjadi biji kakao kering bermutu finggi dan layak dikonsumsi. Fermentasi biji kakao akan menumbuhkan citarasa, aroma dan warna, karena selama fermentasi terjadi perubahan fisik, kimiawi dan biologi di dalam biji kakao. Di dalam biji kakao akan terjadi penguraian senyawn polifenol, protein den gula oleh enzim. Penguraian senyawa-senyawa tersebut akan menghasilkan talon aroma, perbibikan rasa dan perubahan warna.

Faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan fermentasi adalah wadah fermentasi, waktu, aerasi, pembalikan, aktivitas mikroba dan penguraian kandungan pulp. Penguraian kandungan pulp ditentukan dengan lamanya pemeraman buah kakao setelah dipetik.

Fermentor (Wadah Fermentasi)

Wadah fermentasi yang baik digunakan yang terbuat dari papan kayu berbentuk kotak dilengkapi dengan lubang-lubang yang berfungsi sebagai tempat pengeluaran cairan dan aerasi. Jarak lubang biasanya 10-15 cm dengan diameter 1 cm. Ukuran kotak fermentasi berpengaruh pada peningkatan suhu dan dibuat sesuai dengan jumlah/volume kakao yang akan difermentasi (40, 200 atau 600 kg) dengan ketinggian tumpukan, tidak melebihi 42 cm.

Waktu Fermentasi

Waktu fermentasi bervariasi sesuai dengan jenis kakao yang difermentasi. Waktu fermentasi yang dianjurkan untuk kakao lindak adalah 5 hari.Pembalikan Untuk mendapatkan hasil kakao fermentasi yang baik, dilakukan pembalikan biji kakao setelah 48 jam (2hari) fermentasi. Pembalikan hanya dilakukan satu kali untuk menjaga suhu fermentnsi.

Pemeraman Buah


Pemeraman buah bertujuan untuk membantu pembentukan citarasa dan aroma kakao. Disamping itu juga mempermudah proses

fermentasi karena pemeraman akan menyebabkan pulp lebih mudah terlepas dari biji kakao. Waktu pemeraman berkisarantara 6 – 9 hari.

MetodaPrafermentasi
Pemetikan buah kakao dilakukan dengan menggunakan pisau, untuk buah yang tinggi menggunakan bambu panjang yang diujungnya diberi pisau. Buah kakao yang baru dipetik disimpan di tempat terbuka selama 6 – 9hari (pemeraman). Pemecahan buah dilakukan dengan menggunakan kayu bulat, dihindari menggunakan pisau/paranguntuk mencegah biji berwarna hitam. FermentasiBiji kakao dimasukkan ke dalam kotak fermentasi dan ditutup dengan menggunakan plastik atau karung goni. Fermentasi dilakukan selama 5 hari dengan pembalikan 1 kali setelah 48 jam fermentasi. Akhir waktu fermentasi ditandai dengan 1), biji berwarna coklat dan agak kering serta aroma cuka yang menonjol, 2). Iapisan lendir di permukaan biji mudah terkelupas dan 3). Penampang bi ji nampak berongga, berwarna coklat dan warna ungu sudah hilang.

Perendaman dan Pencucian


Perendaman dan pencucian tidak mutlak dilakukan tergantung permintaan dari eksportir. Biji kakao yang sudah difermentasi direndam selama 2 – 3 jam dan dicuci secara hati-hati (ringan). Pencucian bertujuan untuk menghentikan proses fermentasi, mempercepat proses pengeringan dan memperbaiki kenampakan biji.

Pengeringan
Setelah dicuci, biji ditiriskan dan dikeringkan. Pengeringan dapat dilakukan dengan dengan bantuan matahari atau menggunakan alat pengering (mekanis). Pengeringan bertujuan untuk mengunakan air yang tertinggal di dalam biji pasca fermentasi dan mendapatkan kakao dengan kadar air 6 – 7% (SNI 2003). Pengeringan dengan bantuan matahari menggunakan lantai jemur atau terpal dengan ketebalan lapisan biji 3 – 5 cm, hindari kontak dengan tanah. Pembalikan dilakukan 1-2 jam, waktu pengeringan tergantung cuaca sekitar 7 – 14 hnri. Sedangkan pengeringan dengan alat pengering tergantung kapasitas alat dan bahan bakar yang digunakan.

Sortasi dan Pengemasan

S
Biji kakao yang sudah kering disortasi dari kotoran-kotoran dan dikelompokkan sesuai dengan mutunya. Kemudian dikemas dengan menggunakan karung plastik (polietilen). Penyimpanan Biji kakao dapat disimpan sementara menunggu scat pemasaran. Penyimpanan dianjurkan tidak melebihi 3 bulan. Biji dikemas dalam karung plastik dan disimpan pada tempat yang tidak lembab, cukup ventilasi, bersih dan tidak berbau yang kurang sedap. Tumpukan karung yang berisi biji dialas dengan menggunakan kayu dengan jarak sekitar 10 cm dari permukaan lantai.